Minggu- minggu ini saya sedang masuk dalam masa doa puasa yang dilakukan bersama dengan semua jemaat gereja dimana saya melayani.
Pemimpin kami menghimbau, agar kami melakukan doa puasa untuk mencari tuntunan Tuhan bagi kami di tahun yang mendatang.
Bagi saya melakukan doa dan puasa bukanlah hal yang sulit, karena sebagai pendoa syafaat hal seperti ini memang sudah biasa saya lakukan.
Yang agak sulit adalah ketika saya harus banyak diam, yaitu tidak melakukan apapun selain diam.
Ya, dalam doa puasa kali ini, saya banyak di gerakkan untuk diam, tiba-tiba saya tidak punya ide untuk membuat artikel dan tulisan. Dan saya tidak punya banyak dorongan melakukan permohonan doa. Juga saya jadi tidak ingin banyak bicara dengan siapa pun.
Pada mulanya hal ini membuat saya merasa agak tidak enak, karena sepertinya kok kreatifitas menulis saya nihil dalam minggu-minggu ini.
Saya tidak biasa tidak berkarya…., paling tidak, dalam seminggu sedikitnya saya menghasilkan satu buah karya tulis. Tapi ini sudah hampir 2 minggu, baru inilah saya bisa dapat ide untuk menulis.
Lucunya, saya yang biasa susah tidur, dalam minggu minggu ini jadi gampang tidur dan sudah berapa kali saya mendapatkan mimpi yang saya percaya itu adalah mimpi yang diberikan Tuhan, karena isi mimpi itu menyangkut tentang tuntunan Tuhan mengenai peperangan rohani yang akan saya hadapi.
Memang sudah berapa bulan ini, saya tidak pernah lagi mendapat tuntunan dari Tuhan melalui mimpi, tapi lebih sering melalui dorongan yang kuat yang di taruh di dalam hati saya.
” For it is God who works in you both to will and to do for His His good pleasure “, [ Philippians 2:13 ].
Memasuki minggu kedua puasa, saya mulai kembali seperti biasa, yaitu tidak gampang mengantuk lagi pada malam hari…… He he he, kembali jadi kelelawar lagi nih, jadi temannya Batman. Dan yang penting ide saya untuk menulis mulai muncul lagi.
Beberapa hari yang lalu, ketika sedang berkumpul dengan teman-teman di gereja, salah seorang teman saya bercerita bahwa dia sering di telpon orang pada saat lewat tengah malam, orang-orang itu menceritakan problemnya dan dia membiarkannya serta mendengarkan saja.
Saya kemudian berkata padanya, bahwa seringkali orang itu sharing pada kita bukan karena ingin mendapat teman bicara tapi karena banyak orang saat ini yang sangat membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan mereka dengan sungguh-sungguh. They need somebody to listen and understand…..
Setelah itu, dalam perjalanan pulang saat menyetir mobil dengan pelan melewati jalan yang sepi karena hari sudah larut malam, saya tiba-tiba di sadarkan tentang apa yang tadi telah saya katakan pada teman saya, bahwa terkadang ada saatnya Tuhan juga membutuhkan kita untuk mendengarkan Dia. Dia butuh seseorang, manusia, bukan butuh malaikat di surga…….
Dia butuh seseorang yang memiliki gambaran yang serupa dengan Dia.
Ada saatnya, Dia tidak ingin mendengar kita bersuara, sekalipun itu suara nyanyian pujian ataupun berbahasa lidah. Dia ingin kita diam dan mendengarkan Dia, mendengarkan isi hatiNya.
Tapi kita sudah terbiasa datang kepadaNya dengan membawa persembahan dan permohonan, malah sering juga datang kepadaNya membawa beban dan penderitaan.
Ya nggak apa sih, karena memang Dia juga mengundang kita , ” Datanglah kepadaKu hai kamu yang lesu dan berbeban berat….”.
Ketika kita diminta untuk datang dengan tangan kosong dan mulut yang tidak bersuara, kita jadi merasa tidak enak dan tidak nyaman……..
Keintiman dengan Tuhan bisa kita tingkatkan tidak hanya melalui doa, pujian dan penyembahan ataupun membaca dan merenungkan FirmanNya, tapi juga dengan datang kepadaNya hanya dengan membawa dirimu apa adanya dan hati yang tenang, yang mau mendengarkan Dia.
Ya, seringkali juga kita datang untuk mendengarkan Dia karena kita memang sedang butuh pernyataan untuk tuntunan pribadi…….
Kita memang perlu untuk belajar mendengarkan tanpa punya tujuan pribadi tapi karena mengasihi dan mengasihi.
Mungkin saudara pernah membaca atau mendengar ulasan tentang ” Tuhan bisa merasa kesepian ditengah aktifitas ibadah kita yang seru dan ramai “.
” But the LORD is in His holy temple. Let all the earth keep silence before Him “, [ Habakkuk 2:20 ].
” To everything there is a season, a time for every purpose under heaven. A time to keep silence, and a time to speak “, [ Ecclesiastes 3:1, 7b ].
Ditulis oleh Asyer Inna Lingga
Jakarta 29 November 2006.