Sejak bulan Agustus ini aku mulai kerja sama dengan sebuah event organizer.
Kita sedang mempersiapkan pementasan seni dari beberapa sekolah.
Untuk hal tersebut, aku mendapat tugas untuk mengajar ” acting ” di kelas ekskul di beberapa sekolah SD dan TK.
He he he, sesuai dengan talenta-ku dan ilmu yang pernah kupelajari, boo….
Well, I am not only teach them, but first, I must give them understanding about what is ” acting ” and ” how to act “.
Ternyata, ini kali pertama bagi mereka untuk masuk kelas “acting” dalam ekskul. karena sebelumnya yang ada adalah kelas tari dan musik.
Minggu pertama bulan ini adalah pertemuan pertama dengan semua kelas.
Menghadapi kelas SD tidak begitu bermasalah, apalagi pihak sekolahnya cukup siap memulai ekskul ini.
Ruangan sudah siap pakai, absensi murid sudah tersedia, sehingga aku tidak begitu kesulitan ketika memanggil mereka maju ke depan untuk mulai mencoba memainkan berbagai peran dan improvisasi.
Tapi pada hari berikutnya, jadwal ku adalah ekskul untuk anak TK.
Kelas pertama 16 orang, kelas kedua 21 orang.
Can you imagine how to handle a bunch of kids…. alone ?!.
Ternyata dari pihak sekolah belum begitu siap untuk memulai ekskul ini.
List name para murid belum disiapkan, lalu ruang kelas yang disediakan ada dilantai atas yang jauh dari toilet, dan tidak ada AC, dan fan diruangan itu tidak bisa on. dan tahu sendiri kan, kalau belakangan ini cuaca di Jakarta lumayan hot, rata rata diatas 30′c pada siang hari…!!.
Tidak ada assistant, tidak ada guru pendamping yang menolongku saat itu, yang ada bersamaku adalah Roh kudus dan malaikat yang tentu saja “invisible”.
Apa yang bisa di lakukan bagi anak-anak balita untuk mulai memperkenalkan ” acting ” kepada mereka? Sebenarnya sangat banyak ide. Tapi fakta yang dihadapi di lapangan adalah….. sekumpulan bocah manis ini bisa menjadi sekumpulan yang riuh rendah dan kacau ketika kita menyuruh mereka bebas bergerak. Kalau satu mau ke toilet mak beberapa yang lain latah mau ke toilet juga. Kalau satu orang minta minum dari termosnya, maka beberapa yang lain juga minta minum…. maka otomatis, kita break berulang kali.
Ketika disuruh berekspresi, maka mereka berteriak teriak gembira dan berlarian kian kemari sambil melompat lompat tak terkendali……
But thanks God that I have a loudly voice!.
Ketika bertepuk tangan tidak bisa terdengar lagi maka suara ajaib inipun keluar untuk memberikan aba aba kepada mereka.
Tapi yang sangat menggangguku adalah aku tidak tahu nama mereka dan tidak punya list nama, sehingga ketika akan memanggil mereka aku hanya bisa berteriak: ” hey kamu, kesini “.
Rasanya sangat tidak enak bersikap begini.
Apalagi ketika salah seorang anak berkata begini ketika aku memanggilnya: ” hey kamu, coba kesini…. “.
Anak itu datang, dan ketika sudah didekatku dia berkata : ” Miss, namaku Esther…. “. Padahal aku belum menanyakan siapa namanya.
Karena tidak ada list nama, maka aku menyuruhmereka menghitung jumlah mereka dengan menyuruh mereka menyebutkan nomor urutan mereka berdiri. Sehingga aku mengingat mereka sesuai dengan nomor urut mereka.
Kemarin ketika mengajar di kelas SD, sekolah itu sudah siap dengan daftar absen mereka. Aku mengajar tiga sessi dalam tiga kelas. Dan ketika membaca nama mereka satu persatu, aku membaca nama nama yang begitu indah.
Bagiku setiap nama sangat indah dan bermakna, karena aku yakin pasti, bahwa ketika membuat nama itu, setiap orang tua mereka masing-masing sangat mempersiapkan nama tersebut dengan doa dan perenungan karena setiap nama adalah identitas dan sangat mempengaruhi karakter serta kehidupan sang pemilik nama.
Nama adalah sangat penting. Setiap manusia, hewan dan tumbuhan bahkan semua benda memiliki nama, karena nama adalah identitas dan nama itu bisa mencerminkan kepribadian sang pemilik nama.
Kita bisa ingat ketika di jaman perang dunia kedua… apa yang terjadi dengan orang orang Yahudi. Hitler dengan pasukan nazinya, tidak lagi menyebut nama mereka, tapi kepada mereka diberikan nomor sebagai identitas mereka.
Itu adalah suatu tindakan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak diakui dan tidak dihargai lagi identitas maupun kehidupan mereka.
Seorang anak balita saja sudah mengerti bahwa dia bukan sekedar nomor, tapi dia punya nama sebagai identitasnya.
Hal ini kembali mengingatkan aku, bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki karakter yang unik. Setiap kita memiliki ciri khas, kita bukan produk konfeksi, setiap kita adalah ciptaan khusus uang memiliki tujuan khusus dan ciri ciri khusus. Bahkan sekalipun kamu kembar identik, tetap setiap kamu punya ciri khas sendiri yang tidak sama dengan siapapun juga.
Kemungkinan memiliki kemiripan memang ada, tapi itu bukan berarti serupa yang identik.
Karena itu, jangan pernah seorangpun diantara kita sampai meremehkan orang lain, sekalipun mungkin orang itu sepertinya bodoh, miskin, jelek, bertingkah aneh dan memalukan… Karena di mata Tuhan setiap orang adalah special, dan Tuhan menciptakan kita bukan dengan cetakan massal, tapi seperti seorang pemahat, Tuhan membentuk kita dengan teliti, dengan penuh perhitungan dan perencanaan. Seperti pemahat, dia menciptakan begitu banyak… ada yang berbentuk halus dan indah, tapi ada juga yang berbentuk abstrak dan sulit dimengerti orang lain yang melihatnya.
Kita bisa saja memberi komentar atas hasil karya seorang seniman, tapi yang menentukan nilai dan harga karya tersebut adalah penciptanya. Kita bisa saja memberi julukan untuk setiap karya, tapi sang penciptanya lah yang paling berhak menentukan identitas atas hasil karyanya.
Mungkin ada yang bilang lukisan karya Michael Angelo, Basuki Abdullah dan Raden saleh adalah lukisan maha karya yang paling indah, tapi bagi van Gogh dan Affandi, karya mereka sangat indah dan maksimal,,,,
Apa yang terjadi di kelas TK itu, kembali mengingatkan aku, bahwa setiap orang punya ciri khas, setiap orang memiliki nama yang indah.
Sehingga sekumpulan manusia bukanlah sekedar jumlah, tapi mereka adalah suatu keajaiban yang besar dan sangat mahal…….berharga.
Jangan pernah meremehkan satu orangpun yang ada disekitar kita dengan mengaggap ” apalah artinya sebuah nama “.
Shakespeare tidak salah menciptakan kalimat itu dalam naskah drama klasik ” Romeo dan Juliet “…. ” apakah arti sebuah nama ? “, karena kalimat ini memiliki konteks yang lain, yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ditafsirkan banyak orang saat ini tentang kalimat itu.
Sekumpulan manusia bukan sekedar jumlah, tapi mereka adalah sederetan makna yang sangat berharga.
Ditulis Oleh Asyer Inna Lingga.
Jakarta, 8 Agustus 2007.