Sebagai anak Tuhan, kita diharapkan menjaga kekudusan dalam cara hidup kita sehari hari, untuk itu kita harus banyak berperang melawan keinginan daging supaya rohani kita semakin meningkat. Ya, itu adalah pelajaran dasar umum yang biasanya diterima orang dalam pelajaran tentang bagaimana cara hidup orang yang sudah “born again”.
Sebenarnya apa sih takarannya sehingga sesorang disebut rohani?. Apakah kalau dia rajin doa puasa dan banyak berbahasa roh atau berbahasa lidah, dan sudah berulang kali baca Alkitab sampai selesai serta rajin memberitakan injil kepada banyak orang, ya apakah jika melakukan semua itu baru namanya “rohani” banget?.
Tapi saya melihat banyak orang yang melakukan lebih dari itu, akhirnya jatuh juga dalam masalah sex, uang dan lain lain. Jadi, ternyata menjadi orang yang sangat rohani tidak menjamin akn bisa kuat dari segala pencobaan. Karena ternyata, orang yang hidupnya sangat rohani, bisa jadi merasa dirinya sudah sangat kudus sehingga diam diam dia punya “kesombongan” rohani yang akhirnya menjadi celah yang bisa membuat dia jatuh jungkir balik.
Apakah menjaga hati agar jauh dari kesombongan bisa lebih effectif dari pada mengejar kekudusan dengan mengutamakan hal hal yang terlihat dan terasa? Seperti doa puasa, menguasai isi Alkitab dan mahir dalam penginjilan….. karena, ternyata kegiatan rohani bisa membuat kita terperangkap menjadi orang yang sangat rohani sehingga diam diam merasa lebih rohani dari jemaat biasa, lebih kudus dari orang yang tidak ke gereja, bukanlah itu “kesombongan”?. Ya, memang, kita bisa sering bertemu orang orang yang rohani dan hebat dalam melayani di gereja ternyata didalam hati mereka tersembunyi kesombongan yang “putih” sekali, sehingga nyaris tak terdeteksi.
