“Orang yang Rohani”
Sebagai anak Tuhan, kita diharapkan menjaga kekudusan dalam cara hidup kita sehari hari, untuk itu kita harus banyak berperang melawan keinginan daging supaya rohani kita semakin meningkat. Ya, itu adalah pelajaran dasar umum yang biasanya diterima orang dalam pelajaran tentang bagaimana cara hidup orang yang sudah “born again”.
Sebenarnya apa sih takarannya sehingga sesorang disebut rohani?. Apakah kalau dia rajin doa puasa dan banyak berbahasa roh atau berbahasa lidah, dan sudah berulang kali baca Alkitab sampai selesai serta rajin memberitakan injil kepada banyak orang, ya apakah jika melakukan semua itu baru namanya “rohani” banget?.
Tapi saya melihat banyak orang yang melakukan lebih dari itu, akhirnya jatuh juga dalam masalah sex, uang dan lain lain. Jadi, ternyata menjadi orang yang sangat rohani tidak menjamin akn bisa kuat dari segala pencobaan. Karena ternyata, orang yang hidupnya sangat rohani, bisa jadi merasa dirinya sudah sangat kudus sehingga diam diam dia punya “kesombongan” rohani yang akhirnya menjadi celah yang bisa membuat dia jatuh jungkir balik.
Apakah menjaga hati agar jauh dari kesombongan bisa lebih effectif dari pada mengejar kekudusan dengan mengutamakan hal hal yang terlihat dan terasa? Seperti doa puasa, menguasai isi Alkitab dan mahir dalam penginjilan….. karena, ternyata kegiatan rohani bisa membuat kita terperangkap menjadi orang yang sangat rohani sehingga diam diam merasa lebih rohani dari jemaat biasa, lebih kudus dari orang yang tidak ke gereja, bukanlah itu “kesombongan”?. Ya, memang, kita bisa sering bertemu orang orang yang rohani dan hebat dalam melayani di gereja ternyata didalam hati mereka tersembunyi kesombongan yang “putih” sekali, sehingga nyaris tak terdeteksi.

January 14, 2008 at 12:25 am
didalam yang putih itu terdapat yang hitam, didalam yang hitam itu sendiripun terdapat yang putih. itulah dunia
January 14, 2008 at 7:48 am
Intinya,
gak usah rohani-rohani banget… hehehe. (jangan diperhatiken, ini kesimpulen ngasal – hehe)
Be realistic dalam mengikut Tuhan… Meskipun sudah ‘Dibenarkan’ oleh darah Yesus, bukan berarti menutup kemungkinan bagi kita untuk jatuh ke dalam dosa… Pada akhirnya kita semua adalah manusia yang telah jatuh ke dalam ke dosa…
Salam kenal….
GBU
January 15, 2008 at 8:41 am
@indiegal
“Pada akhirnya kita semua adalah manusia yang telah jatuh ke dalam ke dosa…”
Ah syukurlah kita punya YESUS, yang dapat dengan pasti mengatakan bahwa didalam DIA lah keselamatan didapatkan.
February 2, 2008 at 2:04 pm
syalom,
permisi menuliskan komentar dari Aku yang berpengetahuan dangkal dan sedang belajar.
menurutku sih, orang yang kehidupan rohaninya baik adalah orang yang bersukacita karena bisa mengucap syukur atas segala sesuatu, hidupnya juga dipenuhi dengan berkat karena dia mengenal Bapanya disurga.
GBU.
March 8, 2008 at 5:45 pm
September 21, 2008 at 1:53 pm
syalom,,,
saya pernah mengalami hal itu ketika saya baru bergabung dengan salah satu gereja kharismatik 1 thn yg lalu. Saat itu saya ikut training doa. Saat mau naik ke menara doa –waktu mau melepas sandal, sementara disitu ada byk orang di bawah tangga — saya merasa saya jadi org yg sombong, merasa “lebih” dari jemaat biasa. Saya jadi bingung, saya ingin pelayanan tapi kok jiwa saya masih rentan thd kesombongan (dari sejak kecil inilah permasalahan yg terus saya pergumulkan –> kesombongan dan keminderan).
Akhirnya saya mundur spy motivasi saya benar dulu.
Namun saya masih terus bertumbuh dan belajar. Dan saya pelajari bahwa Kesombongan tuhhh akan hilang saat kita liat ke atas, kepada Tuhan kita yang besar, bahwa kita ini semua sama di hadapan Tuhan. Kita sama-sama telanjang di hadapan Tuhan. Tuhan menguji motivasi hati kita, apakah kita melayani Tuhan karena CINTA atau karena motivasi ingin mendapatkan hormat manusia semata. Percuma kalo kita pelayanan tapi ternyata “NOL” di hdapan Tuhan.
Salah satu renungan kotbah dari seorang hamba TUhan mengajar begini : Tuhan mengajar kita untuk “membasuh kaki murid2″, membasuh kaki saudara2 kita. Itulah yg saya pelajari saat ini; pemimpin yg berhati pelayan (dlm konteks bukan hanya di gereja saja). Setinggi2nya jabatan pelayanan kita, kita mendapatkannya karena anugerah Tuhan semata2. AnugerahNya yg bekerja melalui kita. So… apalagi yg harus disombongkan?
Tuhan berkati