Sudah hampir sepuluh tahun lamanya bangsa Indonesia mengalami guncangan ekonomi, dan sampai hari ini keadaan ekonomi kita tidak banyak berubah. Berapapun angka-angka kemajuan statistik ekonomi yang diungkapkan pemerintah dalam laporannya kepada publik, bukti yang paling nyata adalah keadaan setiap hari yang harus dihadapi rakyat dari kelas menengah kebawah.
BBM sering sulit untuk didapatkan di pasaran belakangan ini.
Harga bahan pangan amat sering tidak stabil, malahan cenderung semakin melonjak tinggi, biaya hidup semakin tinggi, biaya sekolah anak-anak juga semakin mahal, sementara penghasilan tidak meningkat malahan banyak yang bangkrut ataupun semakin miskin karena tekanan ekonomi yang kian berat tidak pernah berhenti.
Siapakah yang paling merasakan dampak tekanan ekonomi yang semakin berat menekan dalam tahun-tahun belakangan ini?, mereka adalah kaum ibu dari kalangan menengah kebawah. Tapi ada juga yang tadinya dari kalangan atas tiba tiba tingkat kehidupannya merosot drastis ke bawah karena bangkrut atau terkena musibah bencana alam.
Perempuan-perempuan inilah yang berada dibarisan paling depan dari orang-orang yang langsung berhadapan dengan dampak tekanan ekonomi yang terus bergejolak di Indonesia.
Karena mereka-lah yang setiap hari harus memutar otak bagaimana mengatur keuangan agar bisa mencukupi kebutuhan dapur maupun kebutuhan lainnya.
Belum lagi beban mereka yang harus menjaga keharmonisan suasana dirumah, mereka harus menghadapi suami yang stess karena tekanan ditempat kerja atau karena suami marah marah karena penghasilannya semakin minus.
Juga anak-anak yang sangat konsumtif akibat pergaulan disekolah, mereka menuntut banyak hal yang membutuhkan jumlah uang yang besar.
Dan akhir-akhir ini, banyak perempuan-perempuan di Indonesia tidak hanya menanggung beban berat bagaimana sulitnya mengatur keuangan rumah tangga, tapi mereka juga mulai jadi korban KDRT [ Kekerasan Dalam Rumah Tangga ]. Kita bisa melihat dalam berita di tv maupun di surat khabar bahwa semakin banyak para istri yang dianiaya suaminya, bahkan tidak sedikit yang sampai cacat permanen atau tewas. Ada juga ibu yang dianiaya oleh anak-anak mereka yang marah karena tidak diberi uang.
Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan, kondisi yang harus dihadapi semakin berat dan menekan, sementara lingkungan begitu tidak bersahabat.
Ya, setiap orang kebanyakan berjuang dengan keadaan mereka masing-masing, bukannya karena tidak mau perduli pada orang lain tapi memang hampir setiap orang sudah begitu ruwet dengan persoalan mereka jadi mau tidak mau akhirnya jadi pada menyelamatkan diri sendiri-sendiri.
Maka akibatnya, belakangan ini banyak sekali kaum ibu di Indonesia yang menjadi stress dan depresi.
Kondisi mental yang stress dan depresi membuat mereka tidak bisa lagi menilai dengan akal sehat segala persoalan yang harus mereka hadapi, mereka tidak melihat adanya kemungkinan untuk bisa mendapat pertolongan atau jalan keluar dari masalah-masalah mereka.
Keadaan seperti ini lama kelamaan membuat banyak kaum ibu menjadi putus asa, lalu mereka mulai mengambil jalan pintas……
Akibatnya, kita bisa melihat bagaimana akhir-akhir ini mulai sering terjadi kasus tentang ibu yang membunuh anak-anaknya lalu setelah anak anaknya mati, maka si ibu melakukan bunuh diri.
Belakangan ini, hampir setiap bulan kasus seperti disebut diatas kembali terulang terjadi diberbagai penjuru negeri ini terutama di kota besar.
Belum lagi tentang kasus ibu membuang anaknya yang baru lahir dalam kantung plastik……, kebanyakan dari bayi yang dibuang itu ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi.
Kejadian-kejadian diatas tadi sudah menjadi menjadi konsumsi berita yang biasa kita dapati setiap hari di tv, radio, surat khabar dan tabloid …..
Kalau sudah begini, banyak orang mulai meragukan pepatah lama yang mengatakan ” kasih ibu sepanjang masa….. “.
Mungkinkah untuk era milenium ini pepatah tersebut mulai sulit ditemui pada kaum ibu di Indonesia?.
Saya percaya, sesungguhnya dibagian paling dalam hati para ibu di Indonesia saat ini, hati mereka sangat berduka dan terluka. Bahkan mereka yang pernah membunuh anak mereka yang baru lahir atau menggugurkan kandungannya, saya percaya sesungguhnya bathin mereka menderita….
Seandainya keadaan tidak begitu berat dan kejam menekan para ibu, tentu mereka tidak akan menjadi seperti itu….
Kita bisa mengingat kembali, sejak dahulu kaum ibu adalah kalangan yang paling terdahulu banyak terluka ketika pemimpin dalam suatu pemerintahan mengambil keputusan yang jahat dan keliru.
Ketika Firaun memutuskan agar setiap bayi lelaki yang lahir dari suku Yahudi harus dibunuh, maka yang paling perih hatinya adalah kaum ibu.
Ketika suatu bangsa harus berperang, maka kaum ibu lah yang terlebih dulu menangis karena mereka harus melepas putra dan suami mereka pergi dan tidak tahu apakah mereka akan kembali dengan selamat atau tidak.
Ketika Herodes marah atas kelahiran Yesus, maka dia menyuruh membunuh semua anak anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dibawah 2 tahun, maka yang paling berduka hatinya adalah kaum ibu. Begitu dukanya hati mereka, sampai di Alkitab dituliskan bahwa sangkin berdukanya mereka tidak mau lagi dihibur karena anak-anak mereka tidak ada lagi.
Kisah sejarah diatas adalah tentang kaum ibu yang hatinya terluka sedih karena kehilangan anak-anak mereka akibat kebijakan penguasa.
Tapi ada kisah nyata yang lebih tragis dan mengerikan bisa kita baca di Alkitab, ini terjadi ketika Samaria dikepung bangsa Aram, maka terjadilah kelaparan hebat disana.
Tidak ditulis dengan jelas berapa lama kelaparan itu berlangsung, yang jelas dampaknya adalah sampai-sampai kotoran merpatipun bisa dijual sebagai bahan makanan. Dan yang paling mengerikan adalah para ibu ibu mengadakan arisan anak laki-laki; setiap hari mereka mengadakan giliran satu persatu menyerahkan anak laki-laki mereka untuk dimasak dan dimakan bersama!!.
Kisah nyata ini bisa dibaca di kitab 2 Raja-raja 6: 25-29.
Apakah saat ini, keadaan dibangsa ini sudah separah kejadian di kisah 2Raja-Raja pasal 6 tersebut?, sampai bisa membuat banyak kaum ibu kehilangan rasa keibuannya yang paling murni, sehingga hati mereka tega membunuh anaknya sendiri akibat tekanan ekonomi yang begitu berat?.
Tapi, apapun dan bagaimanapun juga, sesungguhnya saat ini banyak perempuan di bangsa ini yang butuh pertolongan.
Tekanan-tekanan yang harus di alami belakangan ini membuat mereka merasa sangat kesepian dan sendiri. Karena sesungguhnya seandainya saja mereka punya teman bicara yang bisa memberi masukan positif, seandainya ada yang mau menyediakan hati untuk mendengarkan beban mereka….., mungkin banyak diantara mereka yang membatalkan niatnya untuk membunuh anak-anaknya, atau membatalkan niatnya untuk bunuh diri.
Bisa jadi mereka adalah tetanggamu… , temanmu di kantor, atau yang biasa kamu temui setiap hari minggu di gereja dimana kamu berjemaat.
Mereka adalah perempuan-perempuan yang ada didepan yang sedang ditekan oleh keadaan dunia ini….
Mereka butuh jalan keluar dari semua masalah yang sedang dihadapi, mereka butuh terang yang membuat mereka bisa mengambil keputusan yang bijaksana, mereka butuh kekuatan yang memulihkan hati mereka yang tawar.
” Jesus said to him, ” I am the way, the truth, and the life. No one comes to the Father except through Me “, [ John 14:6 ].
” You are the salt of the earth; but if the salt loses its flavor, how shall it be seasoned? It is then good for nothing but to be thrown out and trampled underfoot by men. You are the light of the world. A city that is set on a hill cannot be hidden “, [ Matthew 5:13,14 ].
Bukankah sesungguhnya, sejak kita menerima Tuhan Yesus sebagi Tuhan dn Juruselamat kita, maka “jalan, kebenar dan hidup” itu ada didalam kita ?.
Dan kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita adalah garam dan terang dunia ini, maka itu adalah “iya dan amin”.
Dan ketika dunia disekitarmu membutuhkan garam dan terang itu, adakah garam itu tetap asin dan terang itu tetap bersinar kuat?.
Hal ini tidak cukup hanya didoakan diruang doa saja, tapi kita harus keluar membaur dengan mereka, merasakan apa yang mereka rasakan diantara gelombang kehidupan yang sedang menerpa banyak orang saat ini.
Pertanyaan dan himbauan ini saya ajukan pada semua kita yang disebut perempuan-perempuan-nya Tuhan [ termasuk saya sendiri.... ].
Perempuan-perempuan yang mau berdiri dibarisan depan bersama Tuhan, untuk menolong perempuan-perempuan lain yang sedang terpuruk dan berada di jurang yang gelap.
Mereka butuh seseorang yang mau mendengar dengan hati, bahu untuk bersandar ketika menangis, lengan yang merangkul ketika tawar hati.
Ditulis oleh Asyer Inna Lingga
Jakarta, 19 May 2007.







