Saya suka buku-buku karangan Pdt. Ir. Jarot Wijanarko, selain karena isinya bagus, dia juga sangat jelas dan terus terang mengungkapkan banyak hal tentang perempuan dan laki-laki, hal-hal yang mungkin banyak pendeta lain merasa sungkan untuk membahasnya.
Dari salah satu bukunya yg berjudul ” Pernikahan ” ada beberapa pembahasan yg akan saya sertakan disini untuk menambah pengetahuan kita tentang perempuan dan laki-laki, sehingga kita bisa semakin mengenali dan mengerti diri kita sendiri dan juga pasangan kita, atau bisa juga calon pasangan kita. Saya harap setelah membaca ini, kamu bisa memaklumi orang lain maupun juga dirimu sendiri.
Sesudah membaca ini, jangan langsung “forward” artikel ini kepada pacarmu atau pasanganmu, dengan berharap setelah dia membaca ini dia bisa berubah dan lalu mengerti tentang dirimu….. Tapi mulailah dari dirimu sendiri terlebih dulu…… May God bless you richly !!.
MULUT dan PERUT
Wanita kuat mulutnya, pria kuat perutnya. Sangat mudah untk membuktikan ini, misalnya dalam sebuah pesta pernikahan, wanita akan berkeliling ruangan utk ‘mencicipi ‘berbagai makanan memuaskan bibirnya. Pria bukan berkeliling mencicipi, tapi mengambil dan segera makan banyak-banyak utk mengenyangkan dan memuaskan perutnya. Kalau sudah selesai makan, banyak pria akan berkata kpd istrinya, ” Ma, kita pulang yuk “. Kenapa pulang? Karena sudah makan. Bagi pria, kalau sudah makan berarti acara sudah selesai. Lain lagi dgn wanita, biarpun dia sudah selesai makan acara belum selesai karena dia belum ‘berbicara’ dgn si A dgn si B, dia masih mau ngobrol kesana kesini….
Begitu kuatnya mulut seorg wanita, menurut seorg psikolog ada ‘hukum 500 kata’, yaitu wanita dlm sehari harus berbicara 500 kata, kalau belum berbicara 500 kata, dia bisa bete’, tidak bisa tenang ( hampir sama seperti kalau laki-laki belum makan !).
Karena itu, saya sarankan kepada para istri agar banyak ” pray (speak in tongue), praise and worship, ” sampai melewati 500 kata sebelum sore hari, alhasil waktu ketemu suami pulang kantor, kamu akan damai sejahtera…..
Contoh lain, kalau hari minggu selesai ibadah di gereja, laki-laki ingin segera pergi, kenapa? Karena dia lapar !, ” Ayo cepat ma…!”. Dan si istri
yg masih ngobrol dgn temannya akan menjawab, ” Please deh pa, sebentar lagi, dikit lagi… ” ( maksud psikologisnya dikit lagi belum 500 kata, baru 200 nih ). Tak lama kemudian dia menyusul suami yg sudah menunggu dgn perut lapar, eh ditangga gereja atau di tempat parkir si istri ketemu teman yang lain, dia pasti berhenti untuk sekali lagi berceloteh, bercerita sampai takarannya sudah cukup.
Saran praktis lainnya, kalau suami pulang, jangan diajak banyak bicara tapi suguhi makanan dulu, sebab laki-laki gelisah kalau sedang lapar.
Kebalikannya hai para pria , dengarkan istrimu… Dengarkan dia berbicara dan terus berbicara sampai takaran 500 kata terlampaui. Dengan didengarkan tanpa memberi saran dan komentar sebenarnya 50% masalah wanita sudah selesai. Wanita akan merasa damai dan sejahtera kalau dia di dengarkan, kalau dia sudah berbicara dan dia perlu melampaui 500 kata…!.
Saya berikan alasan yang lebih teologis, kenapa suami harus mendengarkan istri. Firman Tuhan mengajarkan bahwa suami adalah seorang imam dalam keluarga. Apa tugas imam? Sebelum imam Lewi mengorbankan korban sembelihan, dia harus memutuskan hewan apa yg harus disembelih, apakah itu merpati, domba atau sapi, sesuai dgn besarnya dosa umat Israel. Untuk memutuskan, sebelum berdoa, membimbing, sebelum pelayanan lainnya dilakukan, seorang iman HARUS MENDENGAR umat yg datang utk dilayani. Imam HARUS MENDENGAR apa masalahnya, apa dosanya. TUGAS PELAYANAN IMAM YG PERTAMA ADALAH MENDENGAR.
Suami dengarkan istrimu, sediakan waktu, kuduskan waktu untuk mendengar istrimu. Jangan biarkan orang lain yg tekun mendengar istrimu…, jangan biarkan sopir, tukang kebun, temannya di kantor, teman pelayanan atau bahkan pendetanya yg lebih banyak mendengarkan ” curhat “-nya. Itu celah untuk kejatuhan….
Hai suami kalau engkau mengasihi istrimu, dengarkan dia… Intim bagi wanita adalah ngobrol. Intim bagi wanita adalah persahabatan, hubungan bathin. Intim bagi wanita adalah didengarkan dimengerti dan di perhatikan. Karena wanita kebanyakan lebih kuat perasaannya.
Jempol Kiri Jempol Kanan
Cara mudah untuk test, apakah perasaan atau pikiran kita yg kuat sebenarnya sangat mudah. Saya telah mencobanya dan 80% akan benar.
Lipatkan tangan saudara, dgn jari-jari di lipat, tiap jari berselang seling seperti kalau saudara akan berdoa dan lipat tangan. Lakukan dgn santai, secara natural. Nah saudara bisa juga melakukannya sekarang saat ini . Lakukan dulu, baru kemudian lanjutkan baca perikop selanjutnya.
Naaa, jangan teruskan baca, stop dulu, lakukan dulu….
Sudah? Sekarang coba perhatikan, jempol mana yg ada diatas? Apakah jempol kiri yg ada diatas jempol kanan atau sebaliknya?. Kalau jempol kiri yg diatas, otak kanan saudara yg kuat berarti perasaan saudara yg dominan. Kalau jempol kanan yg diatas, berarti otak kiri yg kuat maka pikiran atau logika saudara yg cukup dominan.
Saudara mungkin tidak percaya? Apa hubungannya? Kok semudah itu?
Buktikan saja dgn survey, mulai dg meminta teman2 mu melipat tangan dan perhatikan tangannya. Saudara akan menjumpai orang-orang yg dominan perasaannya menaruh jempol kiri diatas, begitu juga sebaliknya. Saya mencobanya di berbagai pertemuan dan seminar, dan saya menjumpai 80% benar.
Saya menemukan fenomena lain dlm generasi ini, ternyata cukup banyak wanita dgn otak kiri cukup kuat. Faktor pendidikan dan lingkungan, tanpa sadar membangun otak kirinya lebih kuat sehingga pikirannya menjadi kuat dan dominan. Maka jadilah banyak wanita yg sangat mandiri, kuat logika dan pikiran, bahkan terkesan cuek.
Kebalikannya, kita juga banyak menjumpai laki-laki dgn otak kanan yg berkembang, mereka sangat perasa, kolokan, manja, mudah menangis.
Laki-laki yg begini biasanya mereka para artis, seniman, pemusik, pelukis, yg memang merupakan kemampuan otak kanan. Ketika menekuni bidang tersebut maka otak kanan dilatih dan berkembang.
Yang indah, saya jumpai fenomena adalah jika laki-lakinya demikian, maka Tuhan menjodohkannya dengan wanita yang mandiri, sehingga saling melengkapi.
Otak kanan, otak kiri, temperamen dasar ini bukan soal baik atau tidak baik, dosa atau tidak dosa, tetapi supaya kita mengenal diri sendiri dan pasangan kita. Dengan demikian kita bisa lebih mengerti, lebih menerima dan bersikap tepat, mengucap syukur atas pasangan yg Tuhan berikan dgn begitu kita bisa hidup bahagia.
Tuhan memang menciptakan berbeda dan demikian. Maka jangan lah menikah dgn sebuah daftar panjang berisi hal-hal yg harus dirubah oleh pasangan, tetapi terima pasanganmu. Orang yg diterima apa adanya dia akan merasa bahagia, dan orang yg bahagia akan gampang berubah.
Penasaran? Mau tahu lebih banyak lagi? Baca sendiri deh bukunya….
Saya bukan mau promosi bukunya pak Jarot, tapi saya cuma mau share apa yg saya dapatkan. Dan saya percaya itu berguna untuk setiap kita.
Ditulis oleh Asyer Inna Lingga
Jakarta 2 May 2006.